Tugas bahasa Indonesia Unit 2 Cerpen
Trivena Yovita Salim - 9.2
—
Tema: Keluarga
Judul: Mengisi kekosongan itu
Iman kristen: Janganlah takut dan ragu akan masa depan, ada pengharapan dan tujuan yang di siapkan oleh Tuhan bagi kita. (Yeremia 29:11)
Mengisi kekosongan itu
Abstrak:
Pernahkan kalian merasakan kesepian? Hanya menanggap dunia ini sangat tidak adil, mengapa orang lain mempunyai keluarga yang sangat harmonis dan teman-teman yang sangat supportif? Sedangkan diriku... aku mendapatkan keluarga yang awalnya harmonis dan sering dikenal sebagai keluarga yang cemara. “Jadi kamu enak ya, keluarga cemara” “ yang kamu inginkan langsung dapat” “kamu pintar” Itulah kalimat yang sering aku dengar dari teman-temanku saat SD. Namun saat aku naik kejenjang selanjutnya, yaitu SMP. Aku memasuki sekolah yang mengajarkan tentang kekristenan setiap hari dalam hidupku, bahkan sebelum memulai pembelajaran pada hari itu, kita akan merenungkan sebuah kisah di alkitab. Ya, pandangan semua orang dengan diriku semua itu berubah, keluargaku sudah tidak cemara lagi, tidak ada lagi dukungan yang di berikan oleh keluargaku, aku menjadi anak yang pendiam di kelas ku yang sekarang, hanya memiliki 2 teman. Karena tidak ada supportif dari orang terdekatku lagi, aku menjadi anak yang malas-malasan. Tidak ingin belajar, tidak membersihkan rumah. Hanya diam, bengong, dan memikirkan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana kedepannya? “Huh, apakah aku akan menjadi anak broken home?” itulah sehari-hari yang aku pikirkan. Hingga akhirnya aku mendengarkan suatu ayat pada Yeriemia 29:11 saat devosi. Di situlah kehidupanku berubah. Itulah kehidupanku.
Orientasi:
Perkenalkan namaku Valessa, sering dikenal dengan Vale. Aku adalah seorang anak tunggal di keluarga, menurut mama papa aku adalah anak yang ceria, hangat, dan pengertian, namun.. itu hanya saat aku duduk di bangku SD. Aku adalah anak yang sering diperhatikan oleh keluargaku, sering dimanja, apalagi jika menginginkan sesuatu pasti diizinkan! Di sekolah pun aku cukup dikenal sebagai anak yang rajin, pintar, dan sangat suka membantu. “Vale itu baik banget, suka bantu setiap aku kesusahan” “Vale anak yang ceria, seneng banget kalau ngobrol sama dia” itulah menurut teman-teman sekelasku. Itu juga karena orangtuaku dan teman-teman yang sangat supportif kepada diriku. Sungguh menyenangkan bukan masa-masa SD ku? Namun ini hanya saat aku duduk di bangku SD. Setelah aku memasuki jenjang berikutnya.. yaitu SMP. Aku memasuki sekolah yang penuh mengajarkan kekristenan, bahkan sebelum memulai pembelajaran, ada Firman Tuhan yang harus di renungkan. Aku sangat senang saat memasuki sekolah baruku, karena adanya support dari orangtuaku. “Mahh, ini bekalku? Terlihat enak bangett, makasih ya mahh otw semangat nih memulai hari di sekolah baru” Awal aku masuk terlihat baik-baik saja, aku berekspektasi bahwa sekolah baruku dan kehidupanku di jenjang SMP akan mulus. Ya, benar saja, awal aku masuk di kelas 7 SMP aku mendapatkan 2 teman yang hangat serta mendapatkan wali kelas yang baik, tulus, dan aku sangat suka bercerita, tentang keluh kesahku kepada wali kelasku. Namun setelah 1 semester berlalu, aku merasakan perubahan pada keluargaku. Papa sudah jarang pulang kerumah, dan mama... Entah bagaimana, mama pun hilang, dan juga jarang membalas pesanku. Ya, aku sendiri di rumah yang sangat sepi ini, di sekolah pun aku hanya ditemani oleh 2 teman dekatku, yaitu Maia dan Anne. Awal aku berteman dengan Maia dan Anne tidak di sengaja, aku dekat dengan Maia, seiring berjalannya waktu, akupun dekat dengan Anne. Yang menghasilkan kita bertiga menjadi teman baik. Aku sering bercerita ke mereka tentang apa saja yang aku rasakan, apa saja yang aku kerjakan di rumah sepulang sekolah. Sampai-sampai aku sering sekali menelfon mereka untuk saling bercerita. Setelah berhari-hari aku di rumah sendiri dan hanya mengandalkan uang dari tante dan omku. Akhirnya mama pun pulang, dengan keadaan mabuk. Entah mengapa, apa tujuannya, akupun bingung apa yang telah mama lakukan.. Hingga keesokan harinya pada malam hari, aku melihat mama yang sedang sendirian sambil menonton tv, dan aku mendengar suara mobil papa, papa pun akhirnya pulang ke rumah. Aku sangat senang, apakah keluarga ku akan seperti saat aku duduk di bangku SD? Yeay!
Komplikasi:
Namun, yang kuharapkan tidak terjadi.. Ketika aku ingin keluar dari kamar dan berharap akan makan malam bersama dengan kedua orangtuaku. Aku malah mendengar suara mama dan papa yang saling menyalahkan, membentak satu sama lain. “KAMU INI KEMANA AJA SIH MAS, DITELFON TIDAK DIANGKAT, DI-WA TIDAK BALAS”, “YA AKU KERJA MAH, BUAT KELUARGA KITA, KAMU TUH YANG KEMANA AJA SELAMA INI. KELUYURAN GAJELAS!” Agh, sungguh membingungkan, mengapa jadi seperti ini? Mengapa mereka saling menyalahkan? Bukankah seharusnya kita saling berpelukkan dan memberikan kasih sayang seperti dahulu? Kemana makan bareng malam-malam bersama? Sangat banyak pertanyaan yang melintas di otakku: mengapa? Apa yang terjadi? Ini kenapa sih? Yang awalnya aku ingin keluar kamar dan menyapa mama dan papa, kini aku mengurungkan niat tersebut... Aku lebih memilih untuk tetap diam di kamar dan berusaha tenang dan berfikir “Ini semua akan berlalu, tenang saja Vale! Jika sudah selesai. Aku akan keluar dan menyapa mama dan papa”
Yang awalnya aku ingin menyapa mereka berdua, kini aku hanya bisa mengurung diriku di kamar, seorang diri. Memikirkan apa yang terjadi sekarang, dan seterusnya.
Seperti biasa, keesokan harinya, aku berada di kelas 7A bersama sahabat-sahabatku Maia dan Anne. Kami menghabiskan waktu bercerita. Hingga bel pun berbunyi, aku belajar, mengobrol, dan menghabiskan waktuku di sekolah dengan bersenang-senang tanpa berfikir apa yang terjadi di rumah. Setelah aku pulang ke rumah, aku di sambut dengan kenyataan bahwa... Papaku telah selingkuh dari mama. Yang menyebabkan papa jarang pulang ke rumah dengan alasan sibuk berkerja untuk keluarga. Setelah aku perhatikan, ternyata mama sudah mengetahui nya terlebih dahulu sebelum papa mengaku apa yang telah ia perbuat. Sehingga itulah yang menyebabkan mama jarang pulang karena mama sangat pusing dengan keadaan sekarang. Aku yang melihat kejadian tersebut langsung murung, yang awalnya aku kira mama dan papa sudah berbaikan, ternyata belum dan semakin parah. Tanpa menyapa mama dan papa yang sedang berantem, aku hanya melewati mereka berdua dan pergi ke kamarku dengan keadaan yang sudah menangis karena tidak tahan melihat keluargaku sekarang. Kini pikiranku sangat kacau, karena melihat tugas yang belum aku kerjakan, ulangan yang menanti, dan juga masalah keluarga yang sedang terjadi. Aku terus menerus memikirkan ketiga hal itu sambil memperhatikan di luar jendela dan mendengarkan burung yang sedang bernyanyi! Pikiranku di rumah sangat suntuk, akhirnya aku memutuskan untuk memberikan pesan kepada Maia dan Anne bahwa aku akan pergi ke rumah Anne. Mereka bedua belum mengetahui tentang kehidupan aku di rumah, yang mereka tahu aku adalah anak yang setiap hari tertawa. Maia yang mengetahui bahwa aku akan pergi ke rumah Anne, Maia pun memutuskan untuk ikut bergabung ke rumah Anne. Ternyata Maia terlebih dahulu sampai ke rumah Anne, sedangkan aku masih berusaha untuk tidak menangis dan memesan ojol. Ya! Aku bersenang-senang di rumah Anne bersama Anne dan Maiaa, sangat asik bermain dengan mereka, apalagi jika bermain polisi malimg, sangat asik! Aku berlari-lari hingga terengah-engah “HAHAHA, ann liat deh sih Vale, kaya habis di kejar anjing aja” kaga Maia. Akupun menghabiskan dari pukul 5 sore hingga 8 malam. Akupun berpamitan dengan Anne dan Maia, serta orangtua Anne karena ingin pulang, sudah malam. Sesampainya aku di rumah, aku di kejutkan dengan mama yang berbicara denganku “Vale, kamu mau ikut mama atau papa?” Aku shock, terdiam... Yang aku takutkan akhirnya datang hari ini, mengapa mereka cepat sekali memutuskan hal tersebut? Tidak bisakah mengerti sudut pandang satu sama lain?
Evaluasi:
Ya, aku terdiam, dan melanjutkan perjalanan ke kamar tanpa menganggap ada orang lain saat itu. Saat di kamar aku berfikir dengan keras, aku ingin ikut siapa? Aku takut jika keduanya sama-sama mendapatkan keluarga baru dan melupakanku. Setelah semalaman aku memikirkan hal tersebut yang menyebabkan aku tidak fokus dengan pr dan ulangan besok. Setelah aku berpikir akhirnya aku memilih ochoku, ocho itu adalah nenek, aku lebih memilih mengikuti nenek yang sudah pasti sayang aku dari bayi dan tidak akan meninggalkanku. 2 hari kemudian, mama dan papa resmi bercerai, huh sungguh berat untuk menjalani hari-hariku yang sudah berbeda dari sebelum nya. Ya, akhirnya mama pergi dari rumah, dan sekarang papa terang-terangan membawa pacar baru nya. Dan aku, setelah perceraian mama papaku aku masih tinggal di rumah papa dan berkemas-kemas untuk segera pergi ke rumah ocho. Ocho pun sudah tahu bahwa mama papaku bercerai, dan mengizinkanku untuk tinggal bersamanya. Ochoku sudah sangat tua, 78 umurnya. Hingga aku kelas 9, aku sangat senang tinggal bersama ocho ku, dan aku sudah berdamai dengan keadaan 2 tahun lalu. Namun, karena keadaan, ochoku terdiagnosis terkena kanker di ginjalnya, aku sangat sedih mendengar hal itu, keluargaku sudah kuberi tahu tentang keadaan ochoku, karena usianya yang sekarang adalah 81 membuat ochoku tidak bisa di operasi, dan keluargaku sudah pasrah dengan keadaan, dan memilih untuk menunggu hari itu tiba. Selama itu, akulah yang membantu merawat di rumah sakit saat ocho ku di rawat. Sungguh sedih melihat hal ini, aku menangis setiap malam sambil memeluk bonekaku, dan aku hanya bisa bercerita kepada bonekaku, hanya boneka yang dapat mendengar keluh kesahku terhadap keluarga yang hancur ini. Aku berganti-gantian untuk merawat ochoku di rumah sakit bersama omku dan tanteku kini aku yang menjaga ochoku “ochoo cepet sembuh yaa, biar kita bisa makan kepiting lagi, katanya mau makan kepiting sama aku?” Ocho pun menjawab “Iya, doain ocho ya biar cepet sembuh”
Satu tahun pun berlalu, ochoku sudah masuk dan keluar dari rumah sakit, kini aku berada di kelas 10SMA! Wah tidak berasa aku memasuki jenjang yang lebih tinggi, dan sudah tidak satu sekolah bersama sahabatku Anne, Anne telah pindah ke sekolah lain, sedangkan aku san Maia, tetap bersama. Anne dan Maia belum mengetahui tentang keluargaku, karena aku sangat menjaga indentitas keluargaku, mama sudah sangat jarang chat aku... Dan papa, bahkan membaca chatku saja tidak, apalagi jika aku berharap akan di balas oleh dirinya, mungkin papa sudah sibuk dengan keluarga barunya, dan melupakan anaknya ini. Hingga keluargaku berkumpul pada Hari imlek pada tanggal 29 Januari, aku sangat bahagia saat itu, karena bertemu lagi dengan sepupu-sepupuku yang sangat lucuu! Namun setelah hari yang bahagia itu, ochoku keluar-masuk rumah sakit lagi... Dan harus di rawat selama berminggu-minggu, ochoku sudah sulit untuk berjalan, bahkan duduk saja sulit untuk dirinya, yang mengharuskan ochoku tidur dan di rawat di rumah sakit. Aku menyisakan hari sekolahku untuk menjaga ochoku untuk bergantian bersama-sama omku dan tanteku. Aku berdoa kepada Tuhan dan meminta pertolongan untuk menyembuhkan kanker omaku. Selama aku disekolah aku selalu memikirkan “Jika omaku sudah tiada, aku bagaimana? Apakah aku akan putus sekolah? Apakah aku akan ikut mama dan keluarga barunya?” Itulah yang aku pikirkan hingga tidak fokus mendengarkan penjelasan guru, sampai aku di tanya-tanya dengan wali kelasku apa yang terjadi dengan diriku, tetapi aku belum berani untuk memberi tahukan kepada wali kelasku. Setelah beberapa Minggu menjaga ochoku di rumah sakit, aku sangat senang karena melihat perkembangan ochoku yang sudah membaik, aku mengobrol dengan ochoku dan itu ochoku terlihat baik-baik saja, tetapi belum di izinkan oleh dokter untuk pulang kerumah. Akhirnya akupun lega karena menganggap ochoku sudah membaik, namun setelah 1 minggu ochoku terlihat baik-baik saja, ochoku langsung ngedrop dan detak jantungnya langsung lemah. Aku langsung panik setelah mendengar hal itu dari omku yang selesai menjaga ochoku. Aku panik, takut, dan cemas, aku langsung izin pulang dari sekolah untuk segera kerumah sakit...
Setelah ochoku dirawat, keadaan nya semakin buruk. 9 April pun tiba, kini omku yang menjaga ochoku, dan aku berangkat sekolah seperti biasa. Istirahat kedua tiba, aku sangat senang pada saat itu, bercanda, makan bersama dengan temanku, setelah istirahat selesai. Baru saja aku memasuki kelas dan ingin memulai mata pelajaran saat itu, aku di panggil oleh wali kelasku, dan memberikan kabar duka kepadaku. Ya, omaku sudah tiada, aku sangat sedih mendengar hal itu, aku tidak ada disaat nafast terakhir ochoku... bagaimana kedepannya? Aku sangat takut, sehingga aku langsung izin dan pergi ke rumah duka. Kini ochoku sudah tiada, rasanya campur aduk, sedih, senang, kecewa, ochoku sudah tidak merasakan sakit lagi dan sudah bersama Allah, dan kedepannya ocho tidak ada di sampingku lagi. Aku belum ikhlas, aku takut dengan keadaan sekarang sampai masa depan, bagaimana aku akan menghadapinya.
Resolusi:
7 hari berlalu, aku berangkat sekolah seperti biasa, dan mendengarkan Firman Tuhan pada pagi hari yang terambil dari Yeremia 29:11 yang berisi “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” Dari ayat jni aku tersadar bahwa Tuhan Yesus pasti ada di setiap hari-hariku, Tuhan mengizinkan ini semua terjadi karena Tuhan mempunyai rancangan yang terbaik bagi diriku, aku sadar bahwa aku tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan, Tuhan mempunyai rancangan dari orang-orang disekitarku yang dapat menghibur diriku, teman-teman, om dan tante. Tuhan pasti akan menolong hidupku melalui orang-orang terdekatku.
Koda:
Hingga akhirnya, kini aku tinggal bersama tanteku, dan omku membantu dalam hal ekonomi, aku sangat bersyukur karena aku yakin Tuhan pasti akan menolong hidupku, banyak tantangan yang kita lalui, namun dari situ kita dapat melihat bahwa apakah kita tetap masih setia bersama Tuhan atau tidak. Apakah kita yakin dengan rencana Tuhan atau tidak. Sekarang aku belajar untuk percaya dengan rencana Tuhan, tidak takut dengan hal hal negatif yang menghantui diriku, karena aku yakin bahwa Tuhan memiliki pengharapan dan tujuan pada masa depanku, aku sangat menyayangi orang-orang disekitarku yang membantuku, itu adalah salah satu cara Tuhan untuk menolong diriku tetap semangat.